Yuk, Jadi Generasi Milenial yang Melek Sejarah

Oleh : Alya Tsurayya Mumtaz

Hari ini, kita memperingati salah satu peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di negeri ini. Yaitu pengkhianatan dari Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk mengubah ideologi bangsa. Atau biasa disebut Gerakan 30 September PKI (G30S PKI). Lima puluh lima tahun silam, terjadi penculikan dan pembunuhan kepada tujuh tokoh penting Tentara Nasional IIndonesia (TNI).

Sebenarnya, peristiwa ini serta banyak peristiwa sejarah lainnya, begitu penting untuk diketahui dan dicermati. Terutama bagi generasi milenial. Mengapa? Karena di era modern dengan kecanggihan teknologi yang serba futuristik, sebagian besar generasi milenial menganggap sejarah adalah sesuatu yang kuno, jadul, dan tidak relevan. Padahal, jika satu saja peristiwa sejarah di cermati dengan saksama, mungkin banyak hal yang berkaitan dengan kondisi hari ini.

Selain itu, peristiwa sejarah juga selalu memiliki nilai-nilai kehidupan yang bermanfaat. Baik secara eksplisit maupun implisit. Hal ini tentu saja hanya didapatkan jika kita betul-betul memahami hakikat dan esensi dalam sebuah peristiwa sejarah. Karena percaya atau tidak, pahlawan-pahlawan negeri ini bahkan jauh lebih heroik dibandingkan kisah tokoh-tokoh pahlawan super luar negeri yang sering kita saksikan. 

Ir. Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia pernah berkata, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.” Selain itu beliau juga pernah menekankan bahwa, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus bangsa sudah seharusnya tahu dan memahami peristiwa sejarah. Khususnya sejarah yang pernah terjadi di negara kita tercinta. Lantas bagaimana caranya untuk menjadi generasi yang melek sejarah? Berikut adalah tiga cara yang dapat kita dilakukan untuk menjadi generasi yang melek dengan sejarah:

  1. Memanfaatkan media komunikasi

Bagi generasi milenial, nampaknya membaca buku teks pelajaran sejarah menjadi hal yang amat menjemukan. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya jika belajar sejarah lewat video interaktif yang tersedia di berbagai aplikasi, menonton film dokumenter sejarah, atau bahkan membaca novel-novel sejarah. Saat ini, sudah banyak sekali novel sejarah yang ditulis serta disesuaikan agar pembacanya tidak bosan. Beberapa contoh novel sejarah antara lain: novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, Amba karya Laksmi Simanjuntak, Rindu karya Tere Liye, Sang Pangeran dan Janissary Terakhir karya Salim A. Fillah, dan masih banyak lagi.

  1. Mencoba berpikir kritis

Pernahkah muncul pertanyaan-pertanyaan menarik tentang Indonesia yang muncul dalam benak kita? Kenapa Indonesia baru Merdeka tahun 1945 misalnya, atau kenapa negara kita bernama Indonesia. Atau bahkan pernahkah kita bertanya-tanya bagaimana jadinya jika saat itu Gerakan PKI di Indonesia tidak ditumpas. Apakah akan tetap ada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)? Apakah kita tetap bisa berteriak lantang menyerukan kemerdekaan? Bukankah itu sebuah pertanyaan sederhana yang ternyata menarik sekali untuk ditelusuri? Dengan pertanyaan kritis seperti itu, kita bisa terpacu untuk mencari tahu peristiwa sejarah.

  1. Berdiskusi dengan Banyak Orang

Ketika kita telah memahami sebuah peristiwa, pasti akan muncul banyak pandangan kita mengenai sesuatu. Hal itu juga berlaku dalam sejarah. Perspektif seseorang dalam memandang sebuah peristiwa sejarah dapat berbeda-beda satu sama lainnya. Itulah sebabnya dengan berdiskusi semakin banyak wawasan yang kita dapatkan, semakin beragam pula perspektif kita dalam memahami substansi sebuah peristiwa.

Semoga tips ini dapat membantu untuk menjadi generasi milenial yang melek dengan sejarah. Karena sejatinya hidup ini adalah siklus yang terus berulang.

 

 

Leave A Reply