Membaca Bacaan, Memahami Pemahaman

Oleh : Lalu Azmil Azizul Muttaqin

Beberapa tahun lalu Menteri Kebudayaan dan Pendidakan Indonesia, Nadiem Makarim memiliki kebijakan yang disebut dengan kebijakan “Merdeka Belajar”. Kebijakan tersebut memiliki esensi kemerdekaan berfikir, berkreasi, berinovasi yang orientasinya kenyamanan dalam belajar (Happy in learning) tanpa harus ada tekanan, target nilai, maupun kurikulum yang bisa membuat siswa bosan dalam belajar. Salah satu langkah yang dilakukannya adalah gebrakan pada literasi dan numerasi.

Berdasarkan hasil penelitian Program for International Student Assessment (PISA) 2018, untuk tingkat literasi. Indonesia menempati urutan 62 dari 70 negara di dunia.Menilik fakta tersebut, wajar jika Mendikbud memiliki fokus yang lebih terhadap literasi. 

Hasil itu tidak bisa kita pungkiri kebenarannya ,mengingat kurangnya minat baca yang berujung pada rendahnya literasi masyarakat Indonesia. Membaca buku masih tersaingi oleh membaca pesan kawan di WhatsApp, menulis artikel atau tulisan lainnya kalah dengan menulis InstaStory, memahami sebuah buku membutuhkan waktu yang tidak sebentar jika dibandingkan dengan memahami alur beberapa episode drama korea. Hingga akhirnya sebuah penelitian pada 2015 memperlihatkan kecendrungan mengonsumsi televisi berbanding terbalik dengan kecendrungan membaca surat kabar.

Rendahnya tingkat literasi Indonesia ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain gizi buruk, buta huruf, kualitas pendidikan, sarana perpustakaan, kurangnya motivasi membaca, menjamurnya media sosial di semua kalangan.

Sering kali masyarakat Indonesia khususnya kaum milenial menyuarakan kebangkitan literasi, mengampanyekan peningkatan minat baca, mendukung agar pemerintah mendistribusikan buku, tapi apakah dengan membaca seperti itu yang disebut dengan literasi? Banyak yang berfikir membaca hanyalah membaca paragraf per paragraf saja, atau memahami bacaan adalah ketika paham pada saat itu saja. Jika anda berpikiran seperti itu, maka tidak ada yang berani menjamin tingkat literasi di Indonesia akan menjadi lebih baik.

Lantas apa sebenarnya literasi itu? Menurut National Institut for Literacy mendefinisikan literasi sebagai kemampuan seseorang untuk membaca, memahami, menulis, berbicara, serta memecahkan masalah dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat.

Jadi jelas, literasi tidak hanya bertumpu pada kegiatan membaca saja, tapi sejauh mana bacaan tersebut dapat kita pahami. Tidak behenti di sana, tapi juga pemahaman itu bisa kita eksplorasikan kepada orang lain dengan bentuk tulisan atau dengan penyampain yang baik, yang pada akhirnya bacaan itu bisa kita jadikan pijakan dalam memecahkan sebuah problem kehidupan.

Mengingat tingkat literasi masih rendah, ada beberapa cara yang bisa dicoba kaum milenial untuk turut serta meningkatkan tingkat literasi kita.

  1. Istirahatkan gawai, mulai lah bermain dengan buku

Tak dapat dipungkiri tangan-tangan manusia pada saat ini, akan sangat gatal jika sehari saja tidak dimanjakan oleh benda kotak bernama gawai. Jika mau berubah, maka sisihkan beberapa menit untuk gawai kita beristirahat, dan mulailah membaca buku.

  1. Seringlah berdiskusi dan bersosialisasi

Manusia sebagai makhluk zoon politican tidak akan bisa hidup sendiri. Maka sosialisasi itu penting untuk dilakukan. Dengan berdiskusi akan ada pembiasaan pengutaraan argumen terhadap suatu masalah dan melatih penerimaan masukan dari orang lain.

  1. Mulailah sadar bahwa orang sekitar masih sangat membutuhkan kita

Regenerasi kehidupan merupakan sebuah keniscayaan. Perubahan zaman adalah sebuah kedigdayaan. Orang tua disekitar kita dan orang yang tidak paham akan globalisasi akan sangat membutuhkan kecemerlangan problem solving kita, kecerdasan kita dalam melayani mereka di kehidupan. Jadi mulailah untuk peduli terhadap orang disekitar kita.

 

 

Leave A Reply