Manusia Otentik dan Manusia Massa

Karya : Fahrul Rozi

Siapa yang hidupnya hanya didasarkan atas impuls-impulsnya? Manusia demikian adalah manusia yang tidak bernilai. Manusia bernilai adalah manusia yang berani mengatakan “ya” atau “tidak” pada kecenderungan zamannya. Ia senantiasa tidak terjebak dalam massa yang anonim. Massa anonim adalah mereka yang tidak memiliki identitas. Mereka hanya akan kuat tatkala mereka bersama, namun dikala mereka sendirian, mereka tidak berarti apa-apa. Manusia dengan style atau fashion yang ia bangun sendiri, adalah jiwa kreatif yang rasional dan ia merupakan “manusia otentik.” Hal ini disebabkan karena keinginannya yang diarahkan kepada inovasi dan penemuan-penemuan baru. Manusia otentik adalah ia yang menginginkan agar dirinya “selalu berbeda” dengan orang pada umumnya. Manusia otentik benci dengan kesamaan. Hal ini disebabkan karena kesamaan bukanlah sifat alamiah, ia justru bertentangan dengan sifat alamiah.

Manusia otentik adalah ia yang tidak bergantung pada otoritas apapun. Baginya pemujaan terhadap manusia adalah hal yang sia-sia dan bodoh. Bagi manusia otentik, keistimewaan terletak pada “kebanggan diri.” Hal ini disebabkan karena hidupnya yang diarahkan untuk menjadi manusia berbudaya. Intelektualitas adalah kebanggan dan sekaligus identitas manusia otentik. Ia sangat benci terhadap pretensi atau kepura-puraan. Bagi manusia otentik, pretensi atau kepura-puraan adalah dosa terbesar yang dilakukan oleh umat manusia. Umat manusia seharusnya menjadi dirinya sendiri, dan bukan menjadi manusia massa. 

Manusia massa adalah mereka yang tidak berani mengakui kesalahannya. Mereka cenderung melemparkan kesalahan mereka sendiri kepada kelompok atau komunitas mereka. Mereka berharap agar individu-individu dalam kelompok mereka kebal dari jeratan hukum. Hal inilah yang menyebabkan manusia massa adalah manusia pecundang. Ia bersifat malafide yang berarti tanggung jawab bukanlah urusannya. Namun berbeda dengan manusia otentik yang senantiasa mengabdikan diri kepada kejujuran. Kejujuran adalah suatu ajaran etika baginya. Tiada etika yang lebih agung bagi manusia otentik selain daripada kejujuran.

Dalam diri manusia otentik juga terdapat rasa empati yang luar biasa tinggi. Tokoh-tokoh seperti Rockefeller dan Bill Gates adalah contoh manusia otentik. Mereka mengabdikan diri mereka untuk melakukan tindakan kemanusiaan.Dalam diri manusia otentik terkandung etika kepedulian yang dijunjung tinggi olehnya. Ia tidak segan-segan mengeluarkan hartanya bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan untuk untuk memenuhi kebutuhan hidup. Manusia otentik adalah sumber kepekaan dan kepedulian terbesar. Ia senantiasa memikirkan sulitnya kehidupan orang lain.

Dosa terbesar bagi manusia otentik adalah manakala ia sibuk dan terlarut dalam kesenangan duniawi. Hal ini adalah penyebab manusia otentik melupakan pengabdiannya untuk bertindak dalam hal-hal yang menyangkut kemanusiaan. Ia akan senantiasa membayar dosa atau kesalahannya itu dengan hidup sederhana. Karena bagi manusia otentik melihat orang lain bahagia adalah suatu kebahagian. Manusia otentik berkeyakinan jika diri yang selalu memikirkan kesulitan orang lain, diibaratkan seperti minyak wangi yang membasuh kegagalan hidup.

 

 

Leave A Reply