Kok Kita Masih Gini-gini Aja?

Oleh : Fauziah Wiranti Brilliana

 

“Wah dia makin cantik sekarang!”

 “Wah ternyata dia sudah sukses sekarang!” 

“wah ternyata tetangga ku dulu adalah penulis terkenal itu!”

“wah kok bisa sekarang dia sudah menjadi pengusaha sukses!”

Itulah kira-kira perkataan yang sering dilontarkan seseorang, saat dimana kawan, tetangga, sahabat, atau siapapun yang pernah terlintas di hidupnya, ternyata sudah melangkah lebih jauh dari dirinya. Media sosial seperti instagram, facebook, twitter, dan akun sejenisnya, kerap kali menjadi senjata yang begitu menohok, bagai panah yang tiba-tiba saja menancap, lalu melukai hati tanpa berdarah. Swafoto yang terpajang di akunnya cukup membuat kita geger dan merasa iba kepada diri sendiri yang ternyata “kok aku masih gini-gini aja? Kapan suksesnya?”

Manusia adalah makhluk sosial. Apapun yang dilakukannya dalam kehidupan, akan menciptakan interaksi sosial. Rasa untuk saling membantu, rasa ingin berteman, rasa untuk saling bertukar pikiran, dan bahkan rasa untuk saling berkompetisi antar satu sama lain. Itulah mengapa ada yang mengatakan bahwa salah satu faktor yang dapat membentuk karakter manusia adalah lingkungan sosial. 

Interaksi Sosial, menurut Soerjono Soekanto adalah proses sosial mengenai cara-cara berhubungan yang dapat dilihat saat individu dan kelompok sosial saling bertemu kemudian menentukan sistem dan hubungan sosial. Sedangkan rasa ingin bersaing itu akan semakin membara jika ternyata kita lah yang terbelakang. Akhirnya kita terpacu untuk belajar dan bekerja lebih keras. Rasa semangat itu memang nyata d iawal, tetapi seiring berjalannya waktu, semangat yang membara itu perlahan hilang. Lalu sebenarnya, rasa itu apakah benar- benar bukti semangat untuk bangkit atau hanya perasaan iri semata? Apakah semangat itu hanya akan muncul dengan kita melihat kesuksesan orang lain? Tapi bukankah itu malah menjadikan diri kita terlihat lebih kasihan?

Sejatinya kita ini adalah makhluk yang sama, sama-sama lebih tinggi derajatnya dari makhluk lain, sama-sama diberi keistimewaan berupa akal, sama-sama diberi waktu 24 jam dalam sehari, dan banyak kesamaan lainnya yang manusia miliki. Tapi mengapa kita cenderung berjalan bagaikan kura-kura di antara kawanan kelinci. Merasa sudah melakukan yang terbaik, tetapi pencapaian yang didapat tidak sebanding dengan kesuksesan yang sudah orang lain dapat. Lagi – lagi kita menerapkan kata insecure

Maka seharusnya, untuk dapat terus bersaing demi mencapai kesuksesan, perlu adanya introspeksi pada diri masing-masing. Membuat deadline dan strategi baru yang sekiranya dapat terus memacu kita bergerak lebih produktif lagi. Untuk itu penulis ingin memberikan beberapa tips untuk introspeksi dan merevisi etos kerja diri kita, di antaranya :

  1. Kerjakan sekarang !

Pasti banyak dari teman-teman sekalian yang sudah berambisi untuk melakukan atau menciptakan sesuatu. Namun ambisi itu hanya sekadar ambisi, tanpa ada gerakan untuk mewujudkannya. Penulis sendiri sering merasakan hal itu. Contohnya saat kita ingin menulis. Ingin sekali rasanya membuat sebuah tulisan, lalu dicetak menjadi buku yang dapat menginspirasi setiap orang. Kita sudah membuat kerangkanya, sudah menentukan tema yang ingin dibahas, mungkin jika ingin membuat sebuah cerita, kita juga sudah berfikir bagaimana alur cerita tersebut. Tetapi satu yang disayangkan, kita cenderung takut untuk memulai. Takut bila kata awal yang ditulis ternyata tidak menarik, takut bila ternyata karya kita malah menimbulkan banyak kontroversi, dan sebagainya. Jika kita terus berpikir seperti itu, tidak akan berkembang kita. Maka jika kita sudah berambisi, ada dua tindakan cepat yang harus dilakukan, KERJAKAN SEKARANG ! atau TIDAK SEKALIPUN !

  1. Bukan sekadar feed di Instagram

Postingan-postingan pada akun media sosial selalu menjadi berita terhangat yang masuk dalam pikiran. Bagaimana tidak? kesuksesan, kebahagiaan, kemesraan setiap orang terpampang di dalamnya. Anehnya, kita asyik saja menjadi penonton, tanpa tahu berapa lama waktu yang sudah terbuang  sia-sia. Maka teman-teman sekalian harus tetap STAY FOCUS dengan tujuan hidup masing-masing. Jangan terlalu terlena dengan kebahagiaan orang lain. Saat ada yang menjadi beauty vlogger, kita berambisi melakukannya. Saat melihat seseorang sukses dengan usahanya, kita berambisi untuk menjadi sepertinya. Dan saat postingan lain menunjukan kesuksesan lainnya, kita pun berambisi ingin sepertinya. Lalu sebenarnya apa tujuan hidup kita? Apa akan terus menjadi Plagiarisme? Apa yang sedang anda rencanakan sekarang, lakukanlah dengan pasti, dan fokuslah pada akhir dari perjuanganmu itu. Karena hidup itu bukan sekadar memposting feed di instgram untuk dipamerkan

  1. Selalu sebar kebaikan

Kita ini tidak sedang bersaing untuk menjatuhkan satu sama lain, tetapi bersaing untuk menginspirasi satu sama lain. dalam islam kita sudah mengenal istilah “Fastabiqul Khoiraat” yang artinya berlomba-lomba lah dalam kebaikan. Sebenarnya apa tujuan dari sebuah persaingan? Di antaranya adalah agar kita tergerak untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. layaknya B.J Habibie yang menginspirasi setiap anak Bangsa, layaknya Maudy Ayunda yang juga menginspirasi anak muda. Begitulah kita bersaing untuk terus menginspirasi agar bumi tercipta lebih baik.

  1. Jangan jadi kaum rebahan

Generasi millennial dan generasi setelahnya merupakan anak digital. Yang di setiap hidupnya dilalui dengan instan dan euforia media sosial. Cobalah menjadi anak digital yang etos kerjanya berlaga anak 90-an. Keadaan zaman dulu yang sulit, menjadikan anak-anak pada zaman itu memiliki jiwa yang tangguh dan kerja keras yang tinggi. Maka jadilah anak digital yang tangguh dan anti rebahan. Atau mungkin menjadi kaum rebahan, tetapi diam-diam menghasilkan karya. Itu semua tergantung pilihan teman-teman sekalian.

Begitulah sekiranya empat poin penting yang dapat saya berikan. Kita adalah pemeran utama dalam kisah hidup kita masing-masing. Maka tentukan alur cerita kita sebaik mungkin. Meski mungkin tokoh figuran dalam kisah kita memiliki alur cerita yang lebih baik, figuran tetaplah figuran. Pemeran utama lah yang akan menentukan kemana kisah ini akan berakhir, pemeran utama lah yang akan menentukan tujuan akhir dari kisah ini. Meski banyak hambatan yang menghambat kisah ini, pemeran utama yang tangguh akan tetap memilih bahwa kisah ini harus berakhir bahagia. Jangan selalu bertanya mengapa kita masih begini-begini saja, tapi cepatlah banting setir, ubah strategi, tentukan deadline, dan fokus pada tujuan. Sukses selalu teman-teman !

 

 

Leave A Reply