Ketika Mental Illness Menjadi Tren

Oleh Meilisa Syafrina Siregar

Menurut data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan bahwa lebih dari 19 juta penduduk usia di atas 15 tahun terkena gangguan mental emosional, lebih dari 12 juta orang berusia di atas 15 tahun diperkirakan telah mengalami depresi. 

Mental Illness merupakan berbagai kondisi yang memengaruhi suasana hati, pemikiran, dan perilaku seseorang. Masalah kesehatan mental menjadi penyakit mental ketika tanda dan gejala yang sedang berlangsung sering menyebabkan stres dan memengaruhi kemampuan seseorang untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Sangat disayangkan, kesehatan mental di Indonesia masih menjadi hal yang tabu untuk diperbincangkan serta anggapan bahwa orang dengan gangguan kesehatan mental adalah sama dengan orang gila. 

Banyak faktor internal dan eksternal yang dapat menyebabkan seseorang mengidap gangguan kesehatan mental. Kemajuan teknologi tentunya menjadi salah satu faktornya. Kemajuan teknologi ini sendiri dapat memberikan dampak baik dan buruk. Informasi yang sangat mudah dicari dan kemudahan aksesnya menyebabkan seseorang dengan mudahnya mencari hal-hal mengenai depresi atau kesehatan mental pada laman pencarian dan bahkan saat ini sudah banyak siaran radio ataupun dari youtube yang sudah mulai banyak membahas kesehatan mental. Tentunya hal ini merupakan sisi positif, yaitu masyarakat Indonesia mulai memberi perhatian khusus pada kesehatan mental, dan peduli dengan para penyintas.

Dari sinilah muncul tren mental illness, banyak orang-orang yang meyakini dirinya menderita suatu gangguan mental hanya karena merasakan gejala psikologis yang dirasa mirip dengan para penyintas dan tanpa melakukan konsultasi dengan psikolog atau psikiater.Tindakan meyakini bahwa diri sendiri menderita suatu gangguan atau penyakit ini, dikenal dengan self-diagnosis. Self-diagnosis adalah upaya mendiagnosis diri sendiri berdasarkan informasi yang didapatkan secara mandiri dari sumber-sumber yang tidak profesional. Padahal, diagnosis diri hanya boleh ditetapkan oleh tenaga medis profesional melalui konsultasi. 

Jika kamu merasakan ada yang aneh pada dirimu, atau mungkin kamu merasa sedang dalam situasi sulit yang mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, sehingga kamu mulai berpikiran untuk mengakhiri hidupmu ataupun melukai dirimu. Maka sebaiknya kamu melakukan hal-hal berikut.

  1. Berhenti self-diagnose 

Mendiagnosis diri sendiri nyatanya hanya akan memberi dampak negatif pada kesehatan mentalmu. Self-diagnosis yang hanya berdasarkan informasi di internet juga harus dihindari. Banyak informasi mengenai kesehatan mental, dan tak ketinggalan diberikan ciri-ciri pengidapnya. Informasi yang ada di internet sebaiknya tidak kamu terima mentah-mentah. Karena itu tidak sepenuhnya benar. Perilaku mendiagnosis diri ini hanya akan menimbulkan kekhawatiran berlebih pada dirimu.

  1. Temukan seseorang yang bisa mendengarkan ceritamu

Ketika kamu merasa bahwa situasi ini benar-benar membuatmu kesulitan hingga berdampak pada kehidupan sehari-harimu. Mulailah terbuka tentang apa yang kamu rasakan, apa yang menjadi bebanmu, apa yang menjadi ketakutanmu dan kamu bisa menceritakan hal-hal tersebut pada orang terdekatmu, seperti keluarga, teman, atau pasangan. Jika orang terdekatmu mengacuhkanmu dan mengatakan bahwa apa yang kamu rasakan hanya karena kamu kurang beribadah ataupun malah membandingkan masalahmu dengan masalahnya, maka berhentilah menceritakan pada orang tersebut. Karena hal ini bisa membuatmu kurang percaya diri bahkan menyalahkan diri sendiri.

  1. Cari bantuan professional

Ketika kamu tidak memiliki kepercayaan pada orang-orang di sekitarmu, maka hal yang bisa kamu lakukan ialah dengan mencari bantuan profesional seperti psikolog dan psikiater. Kamu bisa menceritakan semua hal yang mengganggu pikiranmu. 

Siapapun kamu yang merasa hidupnya sedang tidak baik-baik saja. Kamu berhak untuk bahagia. 

Sumber : Riskesdas 2018 oleh Kemenkes RI

Leave A Reply